Sabtu, 07 November 2015

Peristiwa 10 Nopember 1945

Bung Tomo di Surabaya, salah satu
pemimpin revolusioner Indonesia yang
paling dihormati. Foto terkenal ini
bagi banyak orang yang terlibat dalam
Revolusi Nasional Indonesia mewakili
jiwa perjuangan revolusi utama
Indonesia saat itu.
PERTEMPURAN SURABAYA ; merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

KRONOLOGI  ;  Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.  Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kamis, 05 November 2015

Christiaan Snouck Hurgronje









Dulu kalau ada orang yang memutar-balik-kan ayat atau me- motong-motong ayat sesuai kehendaknya sendiri atau golongan nya, langsung saja di caci - maki "Snuk Hurgronye Luh . . ".
loh, emangnya siapa sih itu Snuk Hurgronye itu?

Pemikiran Snouck Hurgronje Tentang Islam di Indonesia


Dalam meneliti Islam, ada tiga hal masalah penting yang menarik perhatian Snouck Hurgronje :
–  Pertama, dengan cara bagaimana sistem Islam didirikan
–  Kedua, apa arti Islam di dalam kehidupan sehari-hari dari pengikutnya yang beriman
– Ketiga, bagaimana cara memerintah orang Islam sehingga melapangkan jalan untuk menuju dunia modern dan bila mungkin mengajak orang-orang Islam bekerjasama guna membangun suatu peradaban universal.

Rekaman Al Qur'an Tertua 1885


Selamat Jalan Pak Raden

Drs Suyadi atau lebih dikenal dengan nama Pak Raden, meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Pelni, Petamburan,  Jakarta Barat, hari Jumat (30/10/2015), pukul 22.20 WIB. Sebelum menghembuskan napas terakhir nya, kondisi kesehatan Pak Raden sempat menurun drastis sejak siang. Pria yang dikenal dengan blangkon dan kumis lebatnya itu mengalami infeksi pada paru kanan. Legenda tokoh antagonis dalam serial boneka Si Unyil selalu lekat dengan suara berat yang khas, kumis tebal, dan berkostum beskap Jawa. Meski serial Si Unyil telah tamat, tapi Pak Raden tetap melegenda hingga sekarang. Khususnya bagi mereka yang pernah menikmati serial Si Unyil yang rutin ditayangkan tiap Minggu pagi. Padahal, keseharian pria jebolan Seni Rupa ITB ini tak sekadar mengisi suara tokoh Pak Raden saja. Dia juga jago gambar. Bahkan mantan staf pengajar Seni Rupa ITB ini sempat merilis buku yang berisi coretan sketsanya saat menempuh pendidikan di Paris, Perancis. Sayang, di hari tuanya Pak Raden harus berjuang mengatasi kondisi ekonominya. Dia sempat memperjuangkan hak cipta Si Unyil yang dikuasai PFN (Pusat Film Negara). Perjuangannya mentok. Bahkan, untuk biaya berobat atas sakit yang dideritanya, Suyadi sempat sempat menawarkan lukisannya kepada Presiden Joko Widodo yang kala itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. "Kalau lukisan ini laku, saya gunakan untuk berobat kaki saya," kata Pak Raden. Pemakaman almarhum Suryadi di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10)

Minggu, 25 Oktober 2015

Adnan Bachrum "Buyung" Nasution

SI ABANG, ADVOKAT LOKOMOTIF DEMOKRASI  ; Pengacara senior, Adnan Buyung Nasution (81), meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2015) sekitar pukul 10.15 WIB.

Rabu, 21 Oktober 2015

Kisah Terbunuhnya MUSO

Alih-alih mereorganisasi perlawanan , kekuatan komunis yang dipimpin oleh Musso itu malah kocar-kacir. Untuk menghindari pengejaran tentara pemerintah, Musso sendiri memutuskan menghilang. Dan untuk beberapa minggu upayanya itu berhasil: tentara pemerintah tak bisa mengendus keberadaan agen komunis internasional tersebut. Hingga tibalah pada 31 Oktober 1948. Para petugas keamanan Desa Balong mencurigai seorang lelaki priyayi dalam penampilan sederhana tengah berjalan seorang diri.